Petani Rumput dan Konten Kreator di Kampung Mendunia

Rumput Odot di Kampung Dondong Tengah

Nanam padi akan tumbuh rumput, nah kalau nanam rumput pasti tak tumbuh padi. Pribahasa yang sering saya dengar saat masih kecil. Kenyataannya, beberapa teman dan keluarga malah memilih menanam rumput dan tak berharap akan tumbuh padi.

Bagi kami, menanam rumput itu karena tak punya lahan sawah lagi buat menanam benih padi. Malah, Indonesia yang berkurang persawahan karena alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit atau pemukiman malah swasembada beras lho. Barusan saya baca akun medsos resmi kementerian bahwa Indonesia dapat penghargaan dari IRRI (International Rice Researh Institute) karena mencapai swasembada beras dan sistem ketahanan dengan baik. Luar biasa penghargaannya namun agak berbeda fakta terkait lahan sawah berkurang, benih padi mahal termasuk pupuk organik dan kimia harganya terus melonjak dan milenial sebagian tak mau jadi petani koq bisa swasembada beras. Apakah ini ada kaitannya dengan program food estate atau ketersedian beras dari import yang membludak hasil kerjasama bilateral dan kawasan.

Tapi, “tak usah dipikirkan itu Yan nanti jadi mumet”. Tak saya pikirkan tapi kepikiran pula itu. Setelah merefleksi agar tak kepikiran, sepertinya saya emang tak cocok jadi petani padi karena tak punya sawah lagi. He.he. Lebih baik, bantu orang di kampung untuk perbanyak menanam rumput.

Perlu totalitas untuk jadi petani rumput profesional. Konten kreator saja butuh fokus kalau sedang membidik objek jus buah naga dan kiwi di cafe untuk menghasilkan produk yang keren. Itu namanya profesional dalam bekerja. Tanamlah totalitas dan fokus sehingga panen rezeki. Aamiin

HIBISCO cafe

Leave a Reply