Permata Bukan Berlian

Anak  berperawakan kecil, berkulit putih, rambut lurus, dan mempunyai mata sipit itu berinisial SES. Nama panggilannya Eka. Eka merupakan siswa baru dikelas 1 SD itu sebagai anak laki–laki yang periang, lucu dan agak aktif. Tubuhnya kecil bila dibandingkan dengan teman–teman seumuranya atau seanggkatan dengannya di kelas 1.

Eka punya kemampuan berbicara yang sangat lancar dan pasih. Ya, semua guru–guru pun  saat itu sering mendengar nama eka disebut–sebut. Selain dari pada itu, Eka sebagai anak yang termasuk usil terhadap teman–temannya, jadi semua teman dan guru, baik dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 mengenali Eka. Begitu juga saya sebagai guru kelas 4 juga mengetahui saat Eka menjadi siswa baru di SD itu. Hari hari selalu ada saja candaan dan ulah keusilannya yang dibuatnya. Sesama teman bahkan guru–gurupun tak luput dari candaan Eka. Sifatnya yang usil tak jarang temannya menjadi menagis dibuatnya, bahkan guru menjadi marah dan kesal terhadap Eka.

Pada suatu hari ada kejadian dan ulah Eka yang tak dapat saya lupakan, karena kejadian itu benar–benar didepan mata saya sendiri. Saat itu jam baru menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, siswa–siswa tentunya sedang proses belajar mengajar didalam kelas. Dikelasnya, saya sebagai guru mata pelajaran Agama, jadi saya duduk di ruang guru yang bersebelahan dengan ruang kelas 1 itu. Tiba-tiba, saya mendengar guru kelas 1 memamggil nama Eka dengan agak keras. Saya pun keluar dari ruang guru dan berdiri di pintu melihat kearah ruang kelas 1. Disana ada guru kelas 1 yang juga berdiri dipintu sambil memangil–manggil Eka yang saat itu berlari–lari menuju ke arah WC. Eka tak hanya berlari ia juga berhenti sambil memegang kemaluannnya serta berbaring dan jungkir balik di sepanjang lantai depan kelas yang merupakan jalan menuju WC.

Setelah ia masuk WC dan kembali lagi ke kelas ia hanya tertawa–tawa seolah lucu dan menertawakan gurunya yang bingung dan marah padanya, “Kamu ini memanglah”. Itu juga kelebihan Eka, ia tak pernah sedikitpun tersinggung atau merajuk apabila guru marah padanya. Ia selalu tertawa bahkan ia akan minta perhatian dengan mendekati guru yang marah dengannya lalu ia menatap wajah guru tersebut lalu bertanya dengan gaya kekanak–kanakannya, “Ibu marah e…? jangan marahlah bu….” Seperti tak ada kejadian dianggapnya. Karena keusilannya itu dia diberi gelar dengan teman–temannya dengan nama “Eka Brekele”. Itu juga yang membedakan namanya dengan Eka–eka yang lain di sekolah itu.

Hari berlalu, bulan dan tahun berganti, kini sampai juga Eka di kelas 6 dan sayalah gurunya di kelas 6 tersebut. Walau ia sudah kelas 6, Eka dengan embel–embel “brekele” masih tetap sama dengan ulahnya di kelas satu, usil dan suka menggagu teman–temanya masih saja dilakukan. Hanya yang saya tahu dari Eka ia adalah anak tunggal sampai kelas 6 tersebut. Tak lama lagi ibunya akan melahirkan anak kedua dan adik dari Eka. Saya berpikiran mungkin karena selama ini ia anak tunggal ia agak manja, minta perhatian tapi kini ia mungkin ada rasa cemburu dengan adanya adik tersebut.

Sampai akhir kelas 6 saya selalu mengajak Eka mengobrol, mendengar curhatannya mulai dari yang katanya ibunya tidak menyuapi dia makan, uang jajannya dikurangi, dan lain sebagainya. Eka dapat mengikuti pelajaran walau tidak menonjol dalam mata pelajaran tertentu di kelasnya. Ia mempunyai sikap sosial yang tinggi, karena terbukti apabila ada sumbangan atau infaq ia selalu mau lebih dari teman–temanya. Selalu membereskan meja dan kursi tempat duduk saya sebagai gurunya. Ia juga selalu mau membagikan bekalnya kepada saya. Begitu juga sebaliknya, ia seperti anak bagi saya.

Seiring waktu “Eka Brekele” pun sudah tamat SD dan kini  ia sudah duduk dikelas 12 STM. Saya pun sudah pindah sekolah ke SD yang lain. Ada hal yang saya sedih dan haru bila saya ingat Eka, karena yang saya tahu ia anak yang periang, ia tak dapat melanjutkan ke bangku kuliah seperti yang diinginkannya. Karena saat ia dikelas 12 tersebut ayahnya meninggal dunia karena kecelakaan.

Fia Yanti

Engkau Bukan Berlian Tapi akan Jadi Permata Dikehidupanmu

Kini Eka menjadi tulang punggung keluarganya dengan bekerja digalangan kapal di Batam. Katanya sewaktu saya jumpa dengannya di taman dekat gedung gonggong beberapa waktu yang lalu. Saya hanya terdiam mendengar cerita Eka yang masih saja terlihat ceria. Anak semuda itu harus membiayai ibu dan adik–adiknya. Hanya didalam hati saya tak pernah lupa dengan Eka Brekele siswa saya yang usil ini. Sembari berdo’a kepada Allah Swt semoga memudahkan semua urusan hidupnya, seperti mudahnya engkau tertawa dan canda ceriamu dengan teman-temanmu.

Karya Fia Yanti Guru SDN 010 Tanjung Pinang Timur sebagai bagian dari isi Buku Ombak di Negeri Gonggong (Moksa, 2019)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *