GEOGRAFI,  GEOGRAFI BISA,  GURU,  TOKOH

Penggerak Ecocraft Batik Keanekaragaman Hayati Meraih Terbaik 1 Guru Inspiratif

“Untuk menjadi seorang juara, Anda harus memercayai diri sendiri saat tidak ada seorang pun yang percaya”

Tung Dasem Waringin (Pebisnis dan Motivator Indonesia)

Mengenakan pakaian batik motif dedaunan, Srikandi dari Temanggung dinobatkan sebagai terbaik 1 Guru Inspiratif 2020. Apresiasi ini bukan tingkat kampung lho. Saya saja tingkat kampung belum bisa meraih juara seperti beliau. Namanya menggema saat dibacakan pewara Ballroom Hotel Millenium Kebon Siri Jakarta.

Sebuah apresiasi tingkat nasional untuk guru & kepala sekolah dedikatif, inovatif dan inspiratif Pendidikan Menengah dan Khusus Direktorat Jendral GTK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sebuah rangkaian acara dari peringatan Hari Ulang Tahun Guru RI Tahun 2020. Seleksi yang panjang dengan best practice tentang pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Sebagai guru geografi SMAN 2 Temanggung, Ibu Isrowikah menuliskanya sehingga membuat tim seleksi memutuskan untuk memasukan nama perempuan asal Jawa Tengah ini sebagai juara terbaik I di tahun 2020.

Gambar. Isrowikah, S.Pd Peraih Terbaik I Guru Inspiratif 2020

Ibu Wika biasa teman dan anak didiknya memannggil nama beliau menuliskan judul karyanya dengan “Literasi Mitigasi Bencana Covid-19 melalui Integrasi Problem Based Learning dan Calamity Poster pada Pembelajaran Daring di SMAN 2 Temanggung”. Latar belakang menuliskannya dikaitkan dengan pandemi Covid-19 ini yang membuat siswanya terdampak sehingga belajar dari rumah. Pandemi menjadi masalah kontekstual yang dihadapi siswa sehingga berasumsi bahwa ini harus diangkat menjadi rencana pembelajaran yang menyenangkan sesuai Kompetensi Dasar (KD) 3.7-4,7 di kelas XI. Pembelajaran dilakukan di bulan April 2020 sebagai bentuk pembelajaran kontekstual.

Hidup survive dimasa pandemi harus dilakukan siapapun termasuk siswa khususnya untuk kemampuan literasi kebencanaan pandemi Covid-19. Memanfaatkan WAG (WhatsApp Group) sebagai jembatan penghubung dengan siswa karena waktu itu 2 minggu pasca kebijakan belajar dari rumah diberlakukan. Siapapun guru dan siswa seperti anak ayam kehilangan induknya. Sama-sama bingung, tak tahu berbuat apa. Belum kenal zoom atau google meet. Akhirnya saya memilih Calamity Poster yang bisa dibuat oleh siswa bersama anggota keluarganya yang lain. Hasil karya tersebut diunggah di media sosial masing-masing.

Menurut Ibu Wikah sendiri, beliau belum pantas menerima apresiasi ini setinggi ini. Menurut saya sebagai penulis beliau ini tokohnya seperti “Ilmu Padi” yang berisi namun tetap rendah hati. Capaian yang luar biasa bagi seorang guru seperti beliau yang mampu bertindak cepat dan panggilan jiwanya untuk mengajar bagi anak didiknya. Bahwa beliau ini punya kompetensi Decision Making, Initiating Action & Purpose /Mission yang kuat mengidentifikasi masalah, tanggap dan panggilan jiwanya kuat demi anak didik bangsa yang ingin belajar demi masa depannya.

Proses yang dilakukannya sebagai habit positif pada diri beliau sebagai seorang guru geografi. Di balik semua proses itu, sebenarnya yang membuat saya tergelitik untuk menuliskan bukan pada raihan juaranya itu sebagai cerita utama. Sebaliknya, ketertarikannya saya sebelum capaian ini diraihnya. Coba lihat di akun facebook dengan nama Isro Wikah atau di akun istagram @isro_wikah. Unggahan foto dan videonya bercerita banyak tentang ecocraft. Di komunitas lain menyebutnya dengan ecoprint.

Ibu Wikah selain mengajar geografi juga mengajar prakarya kewirausahaan. Kemampuan literasi geografi yang kuat maka disinergikan geografi dan prakarya kewirausahaan dengan merintis ecocraft di SMAN 2 Temanggung. Ecocraft itu memanfaatkan pewarna dan motif dari daun, bunga, akar, kulit batang, umbi untuk dicetak pada kain. Perbedaaan dengan ecocraft dan batik pada teknik pembuatannya. Pada batik dengan menorehkan lilin dengan cara dicanting sedangkan pada ecocraft dengan teknik pounding, basic atau medium.

Ecocraft merupakan slow fashion karena prosesnya lama dan hand made only, sehingga tidak pernah ada kata sama dalam produk yang dihasilkan. Kondisi alam yang berbeda akan menghasilkan karya yang berbeda pula. Daun jati Temanggung dengan Gunung Kidul sangat berbeda hasilnya karena tanah mempengaruhi karakteristik daun jati tersebut. Ecocraft ini unik dan penuh kejutan setiap karya yang dihasilkan oleh tanga-tangan terampil siswa di SMAN 2 Temanggung.

Melalui ecocraft, siswa yang diajar Ibu Wikah akan belajar berliterasi geografi yang dikaitkan dengan konsep keruangan dan ekologi. Siswa akan belajar tentang keanekaragaman hayati flora di alam sekitar dikorelasikan dengan pembelajaran menyenangkan dan bermakna. Ecocraft akhirnya menjadi bagian dari keunggulan program kewirausahaan sekolah.

Sesuai apa dinyatakan oleh Tung Dasem Waringin, “Untuk menjadi seorang juara, Anda harus memercayai diri sendiri saat tidak ada seorang pun yang percaya”. Guru Srikandi dari Desa Giyanti percaya pada hati dan fikirannya untuk bisa menggerakan mereka untuk meraih juara bersama. Energi di sekelilingnya menjadi motivasi untuk terus maju dan bergerak. Orang tak yakin apa yang dilakukan selama ini dan yang tertawa akhirnya tulus untuk mengangkat topi dan mengklik like atau love di akun media sosialnya.

Bermunculan guru penggerak dan perintis yang inspiratif dari kampung-kampung yang jauh dari hiruk pikuk keramaian media. Tokoh Ibu Isrowikah yang mengajar di Desa Giyanti bisa membumi. Berinovasi dan tanggap terhadap kondisi lingkungan sekitar. Bisa menghebatkan anak didiknya menjadi zilenial entreprenur berbasis lingkungan. Guru Geografi Bisa membumi dan mendunia dengan juara dan karyanya.

#GeografiBisa #GuruInspispiratif #GuruGeografi #EcoCraft

Sumber Foto: Akun Facebook Isro Wikah

Sofyanto

Orang Kampung Mendunia. IG/Youtube: sofyanto.id Email: sofyanto15.st@gmail.com

8 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *