OMAH DONDONG,  PENULIS

30GB Tak Ada Gunanya

Virus Corona bikin geger orang sekampung. Jenazah korban positif ditolak untuk dimakamkan di desa mereka. Mobil ambulan mengangkut jenazah yang sudah di kafani, plastik dan dipetikan harus dihadang. Bahkan ada yang dibongkar kuburannya gara-gara mereka takut terjangkit virus baru dari kelawar. Ada bupati, TNI/Polri sampai emosi turun tangan menyelesaikan permasalahan ini karena merasakan kepanikan. COVID-19 bikin runyam bagi mereka yang berlebihan.

Kebijakan mulai diterapkan secara lokal dan global. Seruan Social Distancing, Fhysical Distancing, Pembatasan Sosial Skala Besar (PSSB) sampai kampaye dilakukan. Isolasi Wilayah dan Lockdown sebagai saran dari masyarakat untuk dilaksanakan. Plus dan minus difikirkan agar negeri ini bisa terkendali sesuai dengan perkiraaan. Berbagai pihak akhirnya ambil peran. Perusahaan skala nasional dan internasional buat kebijakan. Untuk mengurangi beban yang orang banyak rasakan.

BUMN dan mitra pemerintah bergotong royong buat kebijakan. Imbauan #DiRumahAja berdampak pada penggunaan data paket internetan. Akhirnya ada keputusan dengan membagikan paket data gratisan selama sebulan. Berisi 30 GB untuk digunakan belajar daring bagi siswa dan mahasiswa termasuk masyarakat yang melakukan kegiatan di rumahan. Itulah sebuah solusi bagi mereka yang menggunakan gawai (smartphone)`yang mudah sinyal seperti daerah perkotaan. Bagaimana dengan mereka yang ada di pelosok negeri dengan sinyal timbul-hilang.

Bagi orang kampung, punya handphone Nokia 3310 jadul sebagai anugerah luar biasa yang bisa mereka rasakan. Jangan berharap internet gratisan, punya pulsa teleponan saja sudah bisa menyenangkan. Membelinya jika sudah gajian atau dapat kiriman dari keluarga yang jadi TKI di luar negeri seberang. Itulah curhatan yang tidak berlebihan karena melihat dari kenyataan. Mereka butuh bukan paket data internetan tapi lauk pauk untuk makan seharian. Saat ini diberi utang sama pemilik kedai tetangga saja sudah bersyukur dari buah kesabaran. Modal kedai juga mulai menipis karena orang kampung pada banyak yang berhutang.

Sebagian mereka bahkan hanya bisa berhutang beli ikan asin, garam dan belacan. Murah meriah yang bisa jadi makanan untuk menyambung hidup di perkampungan. Harga jual karet, pinang, kelapa dan hasil panen juga dihargai murahan. Hidup mereka mulai goyang, asal rumah tangga jangan sampai berantakan. Tinggal di Indonesia banyak tantangan, harga jual tidak diharapkan namun jika beli kebutuhan harga jadi selangitan. Ada orang sampai persedian celengan mulai dibongkar untuk menyambung kehidupan. Oh nasib, jadi orang kampung hidup dipedalaman.

Perangkat desa yang bertatus honorer mulai bisa merasakan. Perih dan getirnya jadi perangkat desa berjuang menghadapi masyarakat yang banyak harapan. Sebagian pemerintah daerah tidak cepat tanggap kondisi mereka yang bekerja di garis terdepan. Berhadapan dengan masyarakat yang banyak keperluan. Dari surat keterangan tidak mampu sampai pendataan kependudukan. Pernikahan, perpindahan, sampai meninggal. Bahkan harus berhadapan dengan penjahat narkoba yang selalu mengancam dan meresahkan. Mereka sebagian sudah ditangkap, tapi masih ada yang berkeliaran dengan jaringan yang dapat merusak generasi mada depan. Perangkat desa butuh gajian, karena meteran listrik butuh token yang harus diisikan. Agar kehidupan di rumah dengan listrik bisa dijalankan. Mereka ada sebagai pengguna listrik 900 va yang harus dibayarkan walau dapat potongan. Bayarnya tidak bisa ditunda karena bisa diputus pihak PLN di daerah bersangkutan.

Paket 30 GB bisa digunakan untuk siswa yang ingin belajar daring dari rumah diberbagai fasilitas yang diberikan. Penyedia layanan bimbingan belajar menyediakan paket gratis 30GB selama sebulan. Mereka bekerjasama dengan berbagai operator seluler milik pemerintah dan swasta yang sudah ditetapkan. Akibat di rumah saja, siswa/mahasiswa tidak bersekolah untuk tatap muka dengan guru yang jadi panutan. Pilihan daring dengan memanfaatkan Rumah Belajar, Ruang Guru, Google Clasroom, Zoom sebagai alternatif mengganti kehadiran guru di kelas mereka yang selama ini dijalankan.

Siswa di kampung sulit bisa menjalankan daring walau 30 GB disediakan. Tidak semua mereka dari golongan mampu untuk bisa melaksanakan. Guru di kampung selama ini juga kewalahan belajar secara tatap muka apalagi daring yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan. Guru belum pernah mendapatkan pembekalan pelatihan daring dari pengambil kebijakan. Menjadi guru pembelajar dan cari utangan untuk beli paketan demi siswa yang ingin belajar. Pemerintah Daerah ambil kebijakan ikut meliburkan dan imbahuan belajar di rumah sampai waktu yang tidak ditentukan. Bupati tidak memikirkan kehidupan orangtuanya yang masih bekerja sebagai buruh mencari makan. Bekerja hari ini untuk biaya hidup seharian dan besok difikirkan kemudian. Jika seharian saja tidak bekerja jadi kefikiran bagi keluarga yang ditinggalkan. Belum lagi ada anggota keluarga yang sakit perlu pengobatan.

Keluar rumah bukan takut terhadap sama penyebaran virus corona. Berjuang mencari penghidupan untuk beli beras dan lauk pauk seadanya. Memikirkan angsuran panci, sepeda motor dan tagihan arisan. Kebijakan keringanan dibuat hanya bagi korban positif PDP dan mereka tidak mau punya status baru dapat potongan. Kehidupan orang kampung butuh perjuangan seperti mereka yang bekerja sebagai sirkuler (commuter) di perkotaan.

“Seng sabar kue yo ndok karo adikmu cilik iku. Mungkin saiki 30 GB orah kanggo gawe belajar daring. Ngomong seng jujur orah duweh hp apik seng iso internetan karo gurumu seng ayu dan ganteng. Sisok-sisok nak eneng rezeki panen pari seng wes nguning nang sawah belahan iku, kita tuku seng apik hpne. Jadi kuwe iso belajar daring walau kuweh wong kampung. Sopo ngerti kuweh mengko iso mendunia karena perjuanganmu saiki sebagai penggerak desa”

Avatar

Orang Kampung Mendunia. IG/Youtube: sofyanto.id Email: sofyanto15.st@gmail.com

8 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *