CITRA,  KOMUNITAS,  OMAH DONDONG,  SOSIAL,  TOKOH

Pendiri TBM Mendai Secanggang dan Ketua Gemastri Naman Jahe sebagai Peraih Pemuda Berdaya 2020

Najwa Shihab

“Pemuda hari ini harus turun tangan, berkarya nyata menjawab semesta Indonesia”

Sebagian mereka sudah lupa kampung halamannya dimana dia dilahirkan. Bermain petak umpet, mandi di sungai atau mencuri buah di kebun orang di masa kecilnya. Mereka pindah secara diam-diam dan tak tahu dimana rimba saat ini karena merasa sudah sukses di negeri orang. Atau ada merasa malu untuk kembali karena kegagalannya sebagai perantau.

Kampung-kampung di pedesaan mulai banyak ditinggalkan pemudanya untuk merantau. Demi meningkatkan kualitas diri atau mencari kesejahteraan demi keluarga yang ditinggalkan. Penduduk tua dan anak-anak menghiasi dominasi untuk meramaikan suasana kampung di pagi untuk bermain. Malam hari dengan suara mengaji anak-anak atau berkumpulnya mereka di keramaian malam hari seperti pasar rakyat.

Kekhawiran banyak kalangan mulai tampak peristiwa ini. Pemuda yang terampil dan ahli merantau demi meningkatkan ekonomi keluarganya. Pulang lama untuk kembali ke kampung halamannya. Anggota keluarga ada yang meninggal, mau berpesta untuk pernikahan, hari raya atau berbagi warisan sehingga memaksa untuk kembali dengan segera untuk segera menginjakan kaki kembali di kampung halaman.

Bisa jadi lupa karena merasa bahagia di negeri orang atau naik status sosialnya karena tinggal di perkotaan. Yakinlah, bahwa masih ada pemuda Indonesia yang peduli untuk kembali membangun kampung halamannya. Gubenur Sumatera Utara Periode 1988-1998 Raja Inal Siregar menggelorakan “Marsipature Hutanabe” yang bisa diartikan Mari Benahi Kampung masing-masing. Sebuah keinginan, orang yang merantau untuk kembali sehingga Sumatera Utara dengan segera maju. Kata-kata yang penuh makna untuk diresapi bersama sebagai generasi saat ini.

Begitulah keinginan Omah Dondong, membangun negeri ini dimulai dari kampung halaman. Peringatan Hari Ulang Tahun yang I (5 Februari 2019 – 5 Februari 2020) melakukan upaya untuk menunjukan bahwa, masih ada pemuda yang berkomitmen dan dedikasinya untuk membangun tanah kelahirannya. Melakukan dengan modal yang dimilikinya sehingga orang kampung dapat merasakan manfaat secara bersama-sama. Omah Dondong memberikan penghargaan sebagai bentuk terima kasih karena menginspirasi banyak orang untuk berbuat yang terbaik.

Kata Nahwa Shihab “Pemuda hari ini harus turun tangan, berkarya nyata menjawab semesta Indonesia”. Begitulah, Omah Dondong melihat ada 2 Pemuda di Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara yang mau untuk turun tangan dalam berkarya nyata demi kemajuan pembangunan di kampungnya. Di peringatan HUT Omah Dondong di tahun 2020 ini, memberikan penghargaan kepada dua pemuda yang punya kemampuan memberdayakan energi dalam dirinya untuk mengubah kualitas hidup masyarakat dan lingkungannya secara mandiri dan gotong royong.

Penghargaan diberi nama “PEMUDA BERDAYA 2020”. Sebuah penghargaan untuk mengajak pemuda lainnya mampu memberdayakan lingkungannya menjadi nyata. Inspirasi yang dikembangkan agar semakin banyak pemuda di Indonesia mau berbuat yang terbaik untuk negerinya sendiri.

T. Muhammad Faisal

Pendiri Taman Baca Mendai Secanggang

Kesehariannya berkerja pada percetakan buku nasional dibagian pergudangan. Berasal dari Desa Secanggang kemudian merantau ke kota. Berfikir harus bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Rezeki yang diperoleh sebagian disisihkan untuk mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM). Alasan menidirikan TBM karena minta baca buku anak-anak disana sangat tinggi namun ketersedian media seperti buku tidak tersedia. Dengan rezeki dan bergotong royong untuk mencari bantuan orang lain, upaya ini berhasil. TBM lokasinya di Desa Secanggang Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat. TBM ini diberi nama “MENDAI”. Artinya bagi orang Melayu yaitu baik dan jika dipanjangkan menjadi “Membaca Membuat Kita Pandai”.

Setiap minggu dilaluinya dengan kembali ke kampung halamannya. Melihat perkembangan dan aktivitas di TBM Mendai. Di TBM ada yang menjaga secara keseharian. Pengelolaannya diserahkan kepada Pak Ci-nya yang mengalami sakit folio. Beliaulah yang menjaga dan lokasinya berada di teras rumah Pak Ci tersebut. Beberapa donatur dikumpulkan terutama buku anak-anak baik secara perorangan atau komunitas. Usaha menginisiasini akhirnya banyak dikuti oleh orang lain. Usaha meningkatkan kualitas orang kampung melalui budaya literasi dapat menginspirasi banyak orang di Indonesia.

Membangun dari yang kecil saja. Modal semangat dan konsistensi yang dimilikinya itu menjadikan T. Muhammad Faizal dinyatakan sebagai Pemuda Berdaya 2020 Kategori “Budaya Literasi”.

Samsidar Robisma

Ketua Gerakan Masyarakat Telaga Asri (GEMASTRI)

Seorang guru agama di sebuah sekolah negeri di Kota Medan untuk merantau demi keluarganya. Merantaunya tak melunturkan kecintaanya kepada kampungnya. Kampung itu ternyata punya potensi besar dikelola untuk pelestarian alam melalui wisata. Pelestarian akan seiring meningkatkan kesejahteran masyarakatnya melalui wisata alam yang lestari. Ketua Gemastri yang dirikan mampu menggerakan pemuda peduli untuk ikut serta melestarikan telaga yang punya potensi besar bagi kemajuan sebuah kampung. Telaga yang indah, nyaman dan asri untuk dikembangkan sebagai objek wisata berbasis masyarakat. Melalui Gemastri tersebut, beliau memimpin pemuda kampung bersama masyarakat lainnya membangun komitmen bersama. Pelestarian alam Telaga Asri dapat terjaga dan biaya diperoleh melalui pengembangan wisata alam.

Melalui pendekatan yang moderat, usaha itu dilakukannya. Potensi Telaga Asri berbasis masyarakat saat ini mampu menghadirkan orang-orang di luar kampung untuk berkunjung. Wisatawan datang dengan sukarela dan gemastri bergerak menjadi pelayan wisatawan. Retribusi digratiskan. Pendapatan diperoleh untuk kas gemastri melalui rakit bambu yang disediakan di lokasi. Setiap pengunjung dapat menikmati keindahan di tengah telaga berubah pondok bambu. Rakit dan pondok semuan terbuat dari bambu yang dibuat oleh pemuda yang tergabung di Gemastri.

Pelestarian Burung Belibis sebagai daya tarik lainnya yang dapat dinikmati pengunjung. Telaga Asri sebagai habitat fauna Belibis untuk hidup di lingkungan alam yang asri seperti di telaga ini. Melestarikan keberadan fauna dibutuhkan upaya bersama masyarakat dan pengunjung, agar menjaga lingkungannya tetap lestari. Samsidar Robisma inilah mengorganisir pemuda lainnya agar mampu merawat alam sehingga kampungnya tetap jauh dari bencana.

Lokasi ini cocok untuk kegiatan perkembahan. Perkemahan komunitas, sekolah, pramuka, mahasiswa dan lainnya sehingga mereka akan tahu bagaimana pentingnya alam bagi kehidupan. Pengunjung selain dapat menikmati keindahan telaga juga bisa melihat keberadaan habitat burung belibis sebagai pesona telaga. Selain itu, bagi yang berkemah, dapat menyelusuri sungai, jelajah kawasan perkebunan dan mandi di air terjun di sekitar Telaga Asri di Pondok VIII Desa Naman Jahe Kecamatan Salapian Kabupaten Langkat ini. Ekosistem dan kompleksitas ini dapat terlestarikan melalui pendekatan berbasis masyarakat. Pembiayaan pelestariannya dari kegiatan wisata alam.

Begitulah Ketua Gemastri berjuang dan memimpin pemuda untuk konsisten dan komitmen melakukan yang terbaik demi kemajuan kampungnya. Merantau dengan sesaat dan kembali berdayakan untuk dinikmati bersama.

Begitulah, mengapa upaya Omah Dondong memberikan penghargaan kepada dua pemuda sebagai orang kampung yang turun tangan dan usaha nyata memberdayakan masyarakat dan lingkungannya. Ketulusan akan bisa menjawab bahwa pemuda yang berdaya masih ada di semesta Indonesia.

Omah Dondong kehadirannya untuk bersama, berbagi dan berdaya.

Orang Kampung Mendunia. IG/Youtube: sofyanto.id Email: sofyanto15.st@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *